Friday, February 23, 2007

Instalasi BIND

Anda bisa mendapatkan softare BIND yang paling baru dari website resmi ISC dengan alamat http://www.isc.org/products/BIND. Ketika tulisan ini dibuat versi calon rils (release candidate/rc) yang paling baru adalah 9.2.2rc1 (dirilis pada tanggal 14 Agustus 2002) dan versi stable 9.2.1 (dirilis pada tanggal 1 Mei 2002). Kebetulan mesin yang digunakan untuk percobaan adalah menggunakan sistem operasi Linux dengan distro Redhat 7.2 (Enigma), tentu anda bisa menggunakan distro favorit anda yang lain :). Karena pada distro Redhat pada instalasi default sudah menyertakan BIND dalam format RPM, maka langkah pertama adalah menghapus software tersebut dari sistem. Jika anda tidak menggunakan Redhat ataupun tidak ada software BIND yang telah ada, anda bisa melewati langkah berikut ini (INGAT, jika ada BIND yang telah jalan dan anda ingin melakukan upgrade, silakan kreatif dengan membuat salinan atau backup terlebih dahulu) :
[root@wedus asfik]# for a in $(rpm -qa grep ^bind); do rpm -e --nodeps $a; done
[root@wedus asfik]# userdel -r named
[root@wedus asfik]# rm -rf /var/named
Diasumsikan anda terhubung ke internet dan terdapat utilitas wget untuk mendowload software dari ISC, jika anda telah mempunyai source BIND anda bisa melewati langkah berikut ini :
[root@wedus asfik]# wget ftp://ftp.isc.org/isc/bind9/9.2.2rc1/bind-9.2.2rc1.tar.gz
Kemudian kita mekarkan file source, melakukan kompilasi dan menambah user yang akan menjalakan BIND, pada proses make install akan terbentuk direktori /usr/local/named sebagai direktori utama dimana software ini disimpan :
[root@wedus asfik]# tar -xzvf bind-9.2.2rc1.tar.gz
[root@wedus asfik]# cd bind-9.2.2rc1
[root@wedus bind-9.2.2rc1]# ./configure --prefix=/usr/local/named
[root@wedus bind-9.2.2rc1]# make
[root@wedus bind-9.2.2rc1]# make install
[root@wedus bind-9.2.2rc1]# adduser -d /var/named -s /bin/false named
Ganti direktori ke home direktori user named serta mendownload file named.root yang berisi tentang informasi dari root-servers :
[root@wedus bind-9.2.2rc1]# cd /var/named
[root@wedus named]# wget ftp://internic.net/domain/named.root
Kemudian buat file untuk reverse PTR localhost (anda bisa menggunakan editor favorit anda, disini kita menggunakan vi) :
[root@wedus named]# vi db.127.0.0
Isi file db.127.0.0 adalah :
$TTL 86400
@ IN SOA localhost. root.localhost. (
2003021500 ; serial
28800 ; refresh
14400 ; retry
3600000 ; expiry
86400 ) ; minimum
IN NS localhost.
1 IN PTR localhost.
Kemudian salin file db.127.0.0 ke alamat network IP anda (bisa IP intranet atau IP yang anda dapatkan dari ISP anda), disini dimisalkan network yang akan kita reverse adalah 10.126.24.0/24 dan IP 10.126.24.1 adalah IP dimana software BIND akan kita install :
[root@wedus named]# cp db.127.0.0 db.10.126.24
Kemudian buat file yang berisi tentang zone dari localhost :
[root@wedus named]# vi db.localhost
Isi dari file db.localhost adalah :
$TTL 86400
$ORIGIN localhost.
@ IN SOA localhost. root.localhost. (
2003021500 ; serial
28800 ; refresh
14400 ; retry
3600000 ; expiry
86400 ) ; minimum
IN NS localhost.
IN A 127.0.0.1
Buat sebuah direktori untuk menyimpan file konfigurasi dari daemon program BIND :
[root@wedus named]# mkdir /usr/local/named/etc
Buat file /usr/local/named/etc/named.conf yang akan dijadikan sebagai file konfigurasi dari program BIND :
[root@wedus named]# vi /usr/local/named/etc/named.conf
Isi dari file /usr/local/named/etc/named.conf adalah :
options {
directory "/var/named";
allow-transfer { 10.126.24.2/32; };
pid-file "/var/named/named.pid";
};
logging {
category lame-servers { null; };
};
zone "." IN {
type hint;
file "named.root";
};
zone "localhost" IN {
type master;
file "db.localhost";
allow-update { none; };
};
zone "0.0.127.in-addr.arpa" IN {
type master;
file "db.127.0.0";
allow-update { none; };
};
zone "24.126.10.in-addr.arpa" IN {
type master;
file "db.10.126.24";
};
Kemudian meng-generate file konfigurasi yang akan digunakan oleh program rndc, ingat hasil dari perintah rndc-confgen bisa jadi berbeda dengan apa yang ditampilkan disini :
[root@wedus named]# /usr/local/named/sbin/rndc-confgen
Kemudian copy-paste dari hasil perintah tersebut diatas mulai dari baris "# Start of rndc.conf" sampai dengan baris "# End of rndc.conf", simpan dengan nama file /usr/local/named/etc/rndc.conf . Kemudian copy-paste lagi dengan menghilangkan tanda "#", mulai dari baris "# key "rndc-key"..." sampai dengan baris yang hampir paling bawah diatas baris "# End of named.conf " yaitu sampai dengan baris "};" kemudian tambahkan pada file /usr/local/named/etc/named.conf . Sebagai contohnya adalah sebagai berikut ini, isi dari file /usr/local/named/etc/rndc.confmisalnya :
# Start of rndc.conf
key "rndc-key" {
algorithm hmac-md5;
secret "2LCJImnMimOwc1odWR6jfg==";
};
options {
default-key "rndc-key";
default-server 127.0.0.1;
default-port 953;
};
# End of rndc.conf
Sedangkan pada file /usr/local/named/etc/named.conf ditambahkan sebagai berikut :
key "rndc-key" {
algorithm hmac-md5;
secret "2LCJImnMimOwc1odWR6jfg==";
};
controls {
inet 127.0.0.1 port 953
allow { 127.0.0.1; } keys { "rndc-key"; };
};
Atau mungkin anda bisa menggunakan trik dibawah ini (tapi mungkin tidak selalu berhasil seperti yang anda harapkan, use it at your own risk :) ) :
[root@wedus named]# /usr/local/named/sbin/rndc-confgen > confgen.tmp
[root@wedus named]# grep -v "^#" confgen.tmp > /usr/local/named/etc/rndc.conf
[root@wedus named]# grep "^#" confgen.tmp sed 1,3d sed -e "s/\# //g" sed -e "s/End of named.conf//g" >> /usr/local/named/etc/named.conf
[root@wedus named]# rm -rf confgen.tmp
Kemudian langkah selanjutnya adalah mengubah kepemilikan home direktori dari user named, kemudian menjalankan daemon dari program BIND :
[root@wedus named]# chown -R named.named /var/named
[root@wedus named]# /usr/local/named/sbin/named -u named -c /usr/local/named/etc/named.conf
Jika sukses anda bisa melihat pada file /var/log/messages pesan-pesan sebagai berikut :
[root@wedus named]# tail -f /var/log/messages
Feb 15 12:54:18 wedus named[25139]: starting BIND 9.2.2rc1 -u named -c /usr/local/named/etc/named.conf
Feb 15 12:54:18 wedus named[25139]: using 1 CPU
Feb 15 12:54:18 wedus named[25139]: loading configuration from '/usr/local/named/etc/named.conf'
Feb 15 12:54:18 wedus named[25139]: no IPv6 interfaces found
Feb 15 12:54:18 wedus named[25139]: listening on IPv4 interface lo, 127.0.0.1#53
Feb 15 12:54:18 wedus named[25139]: listening on IPv4 interface eth0, 10.126.24.1#53
Feb 15 12:54:18 wedus named[25139]: command channel listening on 127.0.0.1#953
Feb 15 12:54:18 wedus named[25139]: zone 24.126.10.in-addr.arpa/IN: loaded serial 2003021500
Feb 15 12:54:18 wedus named[25139]: zone 0.0.127.in-addr.arpa/IN: loaded serial 2003021500
Feb 15 12:54:18 wedus named[25139]: zone localhost/IN: loaded serial 2003021500
Feb 15 12:54:18 wedus named[25139]: running
Untuk mengaktifkan daemon BIND setiap kali komputer direstar, tambahkan perintah "/usr/local/named/sbin/named -u named -c /usr/local/named/etc/named.conf" pada file rc.local didistro kesayangan anda. Jika anda menggunakan Redhat file rc.local terdapat pada direktori /etc, misalnya :
[root@wedus named]# echo "/usr/local/named/sbin/named -u named -c /usr/local/named/etc/named.conf" >> /etc/rc.local
Kemudian kita set resolver agar menggunakan name server localhost:
[root@wedus named]# echo "nameserver 127.0.0.1" > /etc/resolv.conf
Testing query menggunakan name server localhost dengan perintah host :
[root@wedus named]# host 127.0.0.1
1.0.0.127.in-addr.arpa domain name pointer localhost.
[root@wedus named]# host localhost
localhost has address 127.0.0.1
Atau dengan menggunakan perintah dig :
[root@wedus named]# dig -x 127.0.0.1
; <<>> DiG 9.2.2rc1 <<>> -x 127.0.0.1
;; global options: printcmd
;; Got answer:
;; ->>HEADER<<- opcode: QUERY, status: NOERROR, id: 64212
;; flags: qr aa rd ra; QUERY: 1, ANSWER: 1, AUTHORITY: 1, ADDITIONAL: 1
;; QUESTION SECTION:
;1.0.0.127.in-addr.arpa. IN PTR
;; ANSWER SECTION:
1.0.0.127.in-addr.arpa. 86400 IN PTR localhost.
;; AUTHORITY SECTION:
0.0.127.in-addr.arpa. 86400 IN NS localhost.
;; ADDITIONAL SECTION:
localhost. 86400 IN A 127.0.0.1
;; Query time: 1 msec
;; SERVER: 127.0.0.1#53(127.0.0.1)
;; WHEN: Sat Feb 15 13:58:48 2003
;; MSG SIZE rcvd: 93
Jika anda tersambung ke internet anda bisa mencoba untuk query ke suatu host misalnya :
[root@wedus named]# host www.its-sby.edu
www.its-sby.edu is an alias for ns2.its-sby.edu.
ns2.its-sby.edu has address 202.155.84.179
Anda juga bisa mengeset client anda untuk menggunakan name server yang baru saja anda konfigurasi untuk melayani query. Untuk sistem operasi Windows 2000 Server (tm) adalah sebagai berikut : klik kanan pada "My Network Places" pilih "Properties", klik kanan pada "Local Area Connection" pilih "Properties", pilih pada "Internet Protocol (TCP/IP)" klik "Properties", klik radio button pada "Use the following DNS server addresses", isikan pada "Preferred DNS server" alamat IP dimana server DNS/BIND anda tersebut diinstall, disini diumpamakan IPnya adalah 10.126.24.1 . Untuk sistem operasi Windows98 (tm) adalah : dari menu "Start" klik "Settings", klik pada "Control Panel", klik pada "Network" klik pada "TCP/IP" pilih "Properties", pilih pada tabulasi "DNS Configuration" pilih pada "Enable DNS", kemudian pada "DNS Server Search Order" isikan alamat IP dimana server DNS/BIND anda tersebut diinstall, disini diumpamakan 10.126.24.1
Sampai pada langkah ini anda telah mengkonfigurasi BIND sebagai "caching only name server" yang akan menjawab semua query DNS dan mengingat-ingat record tersebut ketika anda melakukan query pada suatu record DNS yang sama. Hal ini mungkin akan membantu anda memperpendek waktu yang anda butuhkan untuk mengqueri suatu record jika anda berada pada koneksi internet yang pas-pasan :) (misalnya dialup atau kabel modem).
Jika anda terhubung ke sebuah ISP dan ingin membagi beban querydari client anda yang menuju ke server anda dengan server DNS ISP anda, maka anda bisa menggunakan opsi forwarder. Misalkan DNS server ISP anda mempunyai IP 10.11.12.1 dan 10.11.12.2 maka di file named.confpada seksi options, bisa anda tambahkan :
forward first;
forwarders {
10.11.12.1;
10.11.12.2;
};

Sejarah BIND

Program DNS yang bernama JEEVES pertama kali diimplementasikan dan ditulis sendiri oleh Paul Mockapertis. Kemudian diteruskan oleh BIND (versi 4.8.3) yang diimplementasikan pada sistem operasi 4.3 BSD UNIX yang ditulis oleh Douglas Terry, Mark Painter, David Riggle dan Songnian Zhou dari Computer Systems Research Group (CSRG) pada Universitas California di Berkeley. Pada tahun antara 1985-1987, Kevin Dunlap seseorang dari Digital Equipment Corporation (DEC) bergabung dengan CSRG yang kemudian diikuti oleh Doug Kingston, Craig Partridge, Smoot Carl- Mitchell, Mike Muuss, Jim Bloom dan Mike Schwartz. Pemimpin dari proyek ini adalah Mike Karels dan O. Kure.
BIND versi 4.9 dan 4.9.1 kemudian dirilis oleh DEC (yang sekarang diakusisi oleh Compaq Computer Corporation). Pemimpin dari proyek ini adalah Paul Vixie yang merupakan karyawan dari DEC serta dibantu oleh Phil Almquist, Robert Elz, Alan Barrett, Paul Albitz, Bryan Beecher, Andrew Partan, Andy Cherenson, Tom Limoncelli, Berthold Paffrath, Fuat Baran, Anant Kumar, Art Harkin, Win Treese, Don Lewis, Christophe Wolfhugel, dan lain-lainnya. BIND versi 4.9.2 kemudian diambil alih oleh Vixie Enterprises, dan Paul Vixie menjadi arsitek dan programmernya. BIND mulai dari versi 4.9.3 dan seterusnya kemudian diambil alih oleh Internet Software Consortium (ISC) dan akhirnya untuk pertama kalinya, pada tanggal 8 Mei 1997 Bob Halley dan Paul Vixie merilis versi BIND untuk keperluan produksi. Sekarang BINDversi 4 sudah mulai jarang digunakan, dan sebagai penggantinya adalah BIND versi 8 dan versi 9.

Konsep dan hirarki DNS

DNS adalah suatu bentuk database yang terdistribusi, dimana pengelolaan secara lokal terhadap suatu data akan segera diteruskan ke seluruh jaringan (internet) dengan menggunakan skema client-server. Suatu program yang dinamakan name server, mengandung semua segmen informasi dari database dan juga merupakan resolver bagi client-client yang berhubungan ataupun menggunakannya.
Struktur dari database DNS bisa diibaratkan dengan dengan struktur file dari sebuah sistem operasi UNIX. Seluruh database digambarkan sebagai sebuah struktur terbalik dari sebuah pohon (tree) dimana pada puncaknya disebut dengan root node. Pada setiap node dalam tree tersebut mempunyai keterangan (label) misalnya, .org, .com, .edu, .net, .id dan lain-lainnya, yang relatif rerhadap puncaknya (parent).Ini bisa diibaratkan dengan relative pathname pada sistem file UNIX,seperti direktori bin, usr, var, etc dan lain sebagainya. Pada puncak root node dalam sebuah sistem DNS dinotasikan dengan "." atau "/" pada sistem file UNIX.
Pada setiap node juga merupakan root dari subtree, atau pada sistem file UNIX merupakan root direktori dari sebuah direktori. Hal ini pada sistem DNS disebut dengan nama domain. Pada tiap domain juga memungkinkan nama subtree dan bisa berbeda pula, hal ini disebut subdomain atau subdirektori pada sistem file UNIX. Pada bagian subdomainjuga memungkinkan adanya subtree lagi yang bisa dikelola oleh organisasi yang berbeda dengan domain utamanya

Sejarah DNS

Pada tahun 1970an jaringan ARPAnet hanya terdiri dari beberapa ratus host saja. Pada waktu itu, sebuah file HOSTS.TXT yang berisi tentang semua informasi host-hosts tersebut masih bisa melayani setiap permintaan query dan menerjemahkan nama ke alamat IP (name-to-address-mapping).Pada sistem operasi berbasis UNIX, file /etc/hosts merupakan hasil dari pengolahan file HOSTS.TXT tersebut. File HOSTS.TXT pada waktu itu dikelola oleh Stanford Research Insitute Network Information Center (SRI-NIC) di Menlo Park, California. File tersebut tersebut didistribusikan ke semua host dan penggunanya hanya dengan menggunakan satu buah host (mesin/komputer) saja. Petugas administrasi dari ARPAnetbiasanya mengirimkan email kepada SRI-NIC tentang perubahan (termasuk penambahan maupun pengurangan) tentang informasi suatu host, dan dalam periode tertentu, mereka melakukan transfer file HOSTS.TXT yang paling baru (biasanya diperbaharui sekali dalam seminggu) dengan menggunakan protokol ftp. Seiring dengan berkembangnya jaringan ARPAnetdan penggunaan protokol TCP/IP, ukuran dari file HOSTS.TXT menjadi besar dengan bertambahnya jumlah host yang bergabung dengan jaringan ARPAnet. Kemudian timbul beberapa masalah dengan penggunaan file HOSTS.TXT ini, misalnya :
Trafik dan Beban (Traffic and load)
Beban mesin dan trafik (bandwith) di SRI-NIC dalam mendistribusikan file menjadi lebih berat dan besar
Penamaan yang saling bentrok (name collisions)
Pada file HOSTS.TXT tidak diperkenankan adanya dua buah nama host yang sama. Namun pada prakteknya, tidak ada cara untuk mencegah seseorang untuk menambahkan nama yang sama sehingga kemungkinan bisa menjadi bentrok dan pada akhirnya merusak skema yang telah ada
Keaslian (consistency)
Mengelola keaslian dan keutuhan sebuah file antar beberapa jaringan yang sedang berkembang pesat merupakan sesuatu hal yang sulit dilakukan
Berangkat dari masalah-masalah tersebut diatas, ARPAnet membentuk suatu sistem alternatif pengganti dari sistem lama yang menggunakan file HOSTS.TXT. Tujuannya adalah untuk memecahkan masalah dalam pengelolaan tabel host yang sangat beraneka ragam dan masih menggunakan metode sentralisasi. Pada sistem yang baru, seorang sistem administrator memungkinkan untuk mengelola data secara loka, namun akan selalu update secara global di internet. Sistem yang menggunakan metode desentralisasi ini diharapkan akan mengurangi beban dan trafik, serta pengelolaan data dan proses update dari sebuah informasi akan menjadi lebih mudah.
Paul Mockapertis dari University of Southern California Information Science Institute di Marina del Rey, California, dipilih sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap rancangan, desain, arsitektur dan implementasi dari sistem pengelolaan data host yang baru. Pada tahun 1984 beliau merilis RFC (Request For Comment) 882 dan RFC 883 yang menjelaskan tentang Domain Name System (DNS). Kemudian disusul dengan RFC 1034 dan RFC 1035 yang juga menambahkan tentang masalah kemanan DNS, penerapan (implementasi), pengelolaan (adminstrative),mekanisme pembaharuan data secara dinamis, serta kemanan data dalam sebuah domain dan lain-lainnya.

Monday, February 19, 2007

Tux sebagai logo

Ada cerita menarik yang menyebabkan TORVALDS menggunakan penguin sebagai logo dari sistem operasi Linux. Saat itu TORVALDS sedang berjalan jalan bersama ANDREW TRIDGELL (Penyusun Sambatypeset@protect @@footnote SF@gobble@opt Samba adalah sebuah program yang memungkinkan mesin Unix (termasuk Linux) berkomunikasi dengan Windows dalam sebuah jaringan. Bahasan yang cukup detail tentang Samba dapat Anda temukan di bab IV) ) disebuah taman. Tiba tiba TORVALDS dipatok pinguin, dan semenjak itu Ia mengalami demam selama berhari hari. Dia pikir, karakter ini cocok untuk mewakili Linux. Ia ingin pemakainya menjadi demam alias tergila-gila untuk menggunakan dan mengotak atik Linux. Dan ternyata, apa yang dibayangkannya menjadi kenyataan. Hampir setiap pemakai saat pertama kali berkenalan dengan Linux menjadi susah tidur, dan menghabiskan waktunya berjam-jam didepan komputer untuk bermain main dengan Linux.

Visualisasi logonya dikompetisikan kepada umum lewat diskusi pada mailing list Linux Kernel. Pencetusnya adalah ALAN COX, dan logo terpilih diberi nama Tux, dibuat oleh LARRY EWING (http://www.isc.tamu.edu/lewing/linux).

Gambar 1 Tux, penguin logo Linux

Catatan : Perspektif Torvalds tentang logo Linux dapat Anda baca di http://www.linux.org/info/penguin.html. Visualisasi logo lainnya dapat dilihat di http://www.solluna.org/higgins/linuxlogo/linux.html.

Linux

Linux adalah sebuah program open source yang gratis di bawah lisensi GNU, sistem operasi 32-64 bit, yang merupakan turunan dari Unix dan dapat dijalankan pada berbagai macam platform perangkat keras mulai dari Intel (x86), hingga prosesor RISC. Linux sebagai program open source yang gratis Salah satu yang membuat Linux terkenal adalah karena gratis. Dengan lisensi GNU (Gnu Not Unix) Anda dapat memperoleh program, lengkap dengan kode sumbernya (source code). Tidak hanya itu, Anda diberikan hak untuk mengkopi sebanyak Anda mau, atau bahkan mengubah kode sumbernya.Dan itu semua legal dibawah lisensi. Meskipun gratis, lisensi GNU memperbolehkan pihak yang ingin menarik biaya untuk penggandaan maupun pengiriman program. Lisensi lengkap dari GNU, dapat Anda baca di Lampiran III. Penerjemahan lisensi GNU ke dalam Bahasa Indonesia, saat buku ini disusun masih dilakukan.

Catatan : Literatur lengkap tentang GNU dapat Anda baca di situs web mereka yaitu http://www.gnu.org.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Anda dapat memperoleh Linux tanpa harus membayar sama sekali. Jika Anda harus membayar tiap kali instal perangkat lunak di lain komputer, maka dengan Linux Anda dapat menginstalnya dimana saja tanpa harus membayar lisensi.

Kebebasan yang paling penting dari Linux, terutama bagi programmer dan administrator jaringan, adalah kebebasan memperoleh kode sumber (source code) dan kebebasan untuk mengubahnya. Ini berimplikasi pada beberapa hal penting. Pertama keamanan, yang kedua dinamika.

Jika perangkat lunak komersial tidak memperkenankan Anda untuk mengetahui kode sumbenya maka Anda tidak akan pernah tahu apakah program yang Anda beli dari mereka itu aman atau tidak (sering disebut security by obscurity). Hidup Anda di tangan para vendor. Dan jika ada pemberitahuan tentang bug dari perangkat lunak komersial tersebut, seringkali sudah terlambat. Dengan Linux, Anda dapat meneliti kode sumbernya langsung, bersama dengan pengguna Linux lainnya. Berkembangnya pengguna Linux sebagai komunitas yang terbuka, membuat bug akan cepat diketahui, dan secepat itu pula para programmer akan memperbaiki programnya. Anda sendiri juga yang menentukan kode yang cocok sesuai dengan perangkat keras maupun kebutuhan dasar perangkat lunak lainnya untuk dapat diimplementasikan. Ibarat sebuah mobil, Anda bisa memodifikasi sesukanya, bahkan hingga mesin sekalipun, untuk memperoleh bentuk yang diinginkan.

Keterbukaan kode sumber juga memungkinkan sistem operasi berkembang dengan pesat. Jika sebuah program dengan sistem tertutup dan hanya dikembangkan oleh vendor tertentu, paling banyak sekitar seribu hingga lima ribu orang. Sedangkan Linux, dengan keterbukaan kode sumbernya, dikembangkan oleh sukarelawan seluruh dunia. Bug lebih cepat diketahui dan program penambalnya (patch) lebih cepat tersedia. Pendekatan pengembangan sistem operasi ini disebut Bazaar. Kebalikannya sistem Chatedraal sangat tertutup dan hanya berpusat pada satu atau dua pengembang saja.

Sebagai tambahan, Linux menyediakan bahasa pemrograman gratis, lengkap dengan kompilernya, maupun program pembantunya. Beberapa diantaranya adalah :

  • ADA
  • BASIC
  • C
  • C++
  • Expect
  • FORTRAN
  • GTK, untuk membuat aplikasi GUI di Linux
  • PASCAL
  • Phyton
  • Skrip Shell
  • TCL
  • Perl (The Practical Extraction and Report Language), sering dipakai untuk membuat skrip CGI di web.

Thursday, February 15, 2007

Distro indonesia

Pada tanggal 14 Desember 2006, sebuah distro baru di Indonesia telah dirilis, distro bernama Kuliax yang pada rilis-nya kali ini memakai code name “Bakpia”. Distro ini merupakan distribusi sistem GNU/Linux untuk pendidikan di Universitas, khususnya Program Studi Teknologi Informasi atau yang berhubungan seperti Teknik Elektro (TE), Teknik Informatika (TF), Ilmu Komputer (IK), dan lain-lain. Walaupun begitu, distro ini dapat pula digunakan pada Program Studi/Jurusan lain yang membutuhkan perangkat lunak untuk melakukan komputasi seperti Statistik dengan R-base, Pemodelan dengan Octave, dan lain-lain. Versi ini merupakan hasil usaha survei yang cukup mendalam dan penyesuaian dengan kurikulum/silabus Program Studi Teknologi Informasi.

Kuliax 6.0 merupakan implementasi pertama dari rencana Kuliax Project, sebuah proyek untuk membawa Linux dan Perangkat Lunak Bebas dan Open Source (PLBOS) ke dunia pendidikan di Universitas. Diharapkan distro ini bisa menjadi dasar bagi pengembangan-pengembangan selanjutnya baik teknis seperti distro untuk tiap Program Studi/Jurusan atau aplikasi pendidikan, dan non teknis seperti pembuatan dokumentasi, pameran, seminar, workshop, dst.

O, iya distro ini merupakan hasil karya rekan saya STWN yang saat ini merupakan ketua KPLI-JOGJA. Distro ini merupakan project untuk tugas akhirnya di Teknik Elektro UGM. O.K. wan, selamat atas kelulusannya dan semoga sukses dengan Kuliax-nya. Buat para pembaca, tertarik untuk mencoba distro baru ini?

Linux Bukan OS alternatif lagi !!

Sejak Linus Torval menyebarkan linux pada tahun 1991, Sepertinya linux berkembang dengan pesat sekali. Bagi negara yang mempunya dan menghargai hukum hak cipta, Linux memang menjadi sebuah pilihan alternatif darai pada membeli Sistem operasi komersial yang harganaya sekian dolar.

Pada awal gencar-gencarnya linux di Indoensia sering diadakan seminar dengan tema "Linux sebagai sistem opesari alternatif", dikatakan alternatif karena sistem operasi lain (yang komersial) jauh lebih user friendly (mudah untuk digunakan) dibandingkan dengan linux, namun untuk membeli OS komersial seperti Microsoft Windows 98 ada membutuhkan uang sekitar Rp.1.500.000,- yang isinya hanya sistem operasi (belum termasuk aplikasi pengolahan kata, game, aplikasi multimedia dan sebagainya) sedangkan Linux tidak demikian, jangankan membeli, source code programnya saja boleh anda dapatkan secara cuma-cuma dan dapat dimofikasi sesukanya. Bukan hanya itu, dalam satu paket cd Linux kita dapat menginstall banyak program dari urusan administrasi sampai game dsb, nah itu makanya linux jauh lebih efesien secara finansial.


Keadaan di-indonesia yang tidak begitu baik menjalankan hukum dan kurangnya sikap menghargai hak cipta orang lain membuat moral-moral pembajak bersebaran di Indonesia sehingga perkembangan linux agak sulit untuk dilakukan, namun demikian beberapa rekan mengatakan ini maslah beberapa orang di atas saja, jika mereka setuju
HAKI ditegakan, maka hilanglah para pembajak dan tentunya kebutuhan akan komputer tidak akan hllang begitu saja. untuk memenuhi kebutuhan komputer yang ada, tentunya linux adalah pilihan yang tepat karena tidak dipungut biaya.

Dengan keadaan tersebut maka linux dikatakan sebagai OS alternatif. TAPI untuk mengatakan hal tersebut untuk saat ini adalah kesalahan besar karena "linux atau GNU/Linux bukan seperti yang dulu lagi", sebagai bukti silahkan anda mencoba untuk menginstall Linux Mandrake 9.1 atau RedHat 8.0 , tapilannya yang bagus serta kebutuhan akan daya yang tidak tinggi serta aplikasi yang siap untuk kerja dan hibura membuat kita memang tidak bisa mengatakan linux sebagai OS alternatif lagi.

Tidak Percaya ??, coba buktikan sendiri !!!!!!!!!!!!

Microsoft Gunakan Linux

Awalnya, Microsoft menyatakan bahwa
Linux tidaklah sesuai untuk kalangan enterprise. Tapi
kini, Microsoft sendiri menggunakan Linux untuk melindungi
servernya dari serangan denial-of-service.

Konon, menurut artikel yang diposting di situs Netcraft,
pada hari Jumat, Microsoft telah merubah setingan DNS
(domain name system)-nya. Perubahan ini menyebabkan
panggilan terhadap www.microsoft.com tidak lagi diteruskan
ke komputer pada jaringan Microsoft sendiri, tapi akan
ditangani oleh sistem caching Akamai, yang menjalankan
Linux.

Akamai menjalankan layanan untuk membantu mempercepat
performa situs dengan copy cache dari web site di banyak
server yang tersebar di berbagai lokasi. Akamai mampu
bertahan dari serangan denial-of-service dengan
menyebarkan serangan ke berbagai server. Dengan
menyebarkan serangan ini ke berbagai server, akan
mengurangi kemungkinkan serangan dari banyak sistem ke
satu server tunggal. Akamai menampilkan pertahanan
tersebar untuk menghadapi serangan denial-of-service.

Pada saat artikel di situs Netcraft itu ditulis, Kamis
(21/8/2003), Netcraft melaporkan bahwa www.microsoft.com
masih dioperasikan di atas Linux, meskipun pihak
microsoft.com melaporkan bahwa dirinya beroperasi di atas
Windows Server 2003.

Juru bicara Microsoft mengatakan, pihak perusahaan
menghargai fakta bahwa para mitra dan vendor mereka
kemungkinan memiliki model bisnis yang berbeda dan
beroperasi pada lingkungan IT yang bermacam-macam. "Tujuan
utama Microsoft adalah melakukan apa saja untuk membantu
konsumen membasmi Blaster untuk melindungi komputer
mereka... Microsoft saat ini menggunakan Akamai untuk
mendistribusikan trafic yang tengah disusupkan ke
Microsoft oleh para hacker," kata jubir itu dikutip
Techweb.

Worm Blaster yang menyerang internet minggu lalu. Worm
tersebut dirancang agar hari Sabtu lalu situs
windowsupdate.com dibanjiri dengan serangan berupa
denial-of-service. Akan tetapi, windowsupdate.com bukanlah
situs Microsoft, itu alamat situs palsu yang digunakan
Microsoft untuk membawa versi update dari Windows. Sampai
hari Sabtu lalu, Microsoft telah mengeset
windowsupdate.com untuk di-redirect ke
windowsupdate.microsoft.com; Microsoft melindungi dirinya
sendiri dengan menonaktifkan redirection tersebut.

Redirection adalah suatu teknik untuk memindahkan
pengunjung ke suatu halaman website ketika alamatnya telah
dirubah sementara pengunjung sudah terbiasa dengan alamat
lama. Juru bicara Akamai menolak memberikan keterangan,
kecuali menyatakan bahwa Microsoft adalah konsumen.

Rasanya aneh mengetahui bahwa Microsoft menggunakan Linux.
Selama ini, Microsoft menganggap Linux sebagai saingan
terbesarnya.

Bulan lalu, John Connors, CFO Microsoft, menyebutkan bahwa
Linux adalah ancaman nomor 2 bagi perusahaan. Sedangkan
ancaman nomer 1 adalah kondisi ekonomi secara umum. Hampir
satu dari lima perusahaan kecil dan menengah menggunakan
Linux pada desktop mereka. Analoginya seperti bos McDonald
yang ketahuan makan di Burger King. (ballack)

Friday, February 9, 2007

Logo komunitas Stmik Jakarta Tapi untuk sementara waktu saja karena masih ada perbaikan lagi.

KSL Stmik jakarta

Kelompok Studi Linux adalah sebuah komunitas mahasiswa yang interest dalam dunia Open Source/Linux,
Kelompok Studi Linux stmik jakarta didirikan pada tahun 2007 oleh
beberapa mahasiswa dan dalam perjalanannya telah ikut mewarnai perkembangan IT di indonesia dengan menulis modul, artikel maupun mendirikan lembaga pendidikan/kursus yang
mengajak dalam studi, penggunakaan dan pengembangan Open Source Software (OSS).
Sebagai sebuah organisasi KSL Stmik jakarta memiliki 3 misi, yaitu:
Pertama adalah fungsi sosial, KSL sebagai sebuah organisasi melakukan sosialisasi dalam penggunaan Open Source/Linux sebagai solusi untuk membebaskan masyarakat dalam penggunaan perangakat lunak dengan cara yang halal, sah dan legal, melakukan installface, sharing, penulisan buku, modul, artikel, seminar, workshop, training dll.
Kedua adalah fungsi edukasi, mendorong kepada anggota, mahasiswa dan masyarakat umum untuk menggunakan Open Source Software (OSS) sebagai platform belajar dan aktifitas keseharian, yang tertuang dalam konsep Open Source Campus Agreement (OSCA) yang merupakan kesepakatan moral institusi kampus dan mahasiswa untuk menggunakan platform Open Source sebagai solusi yang efisien, murah tetapi handal, sehingga diharapkan
sebagian besar pembiayaan infrastrukrur IT dapat lebih diarahkan kepada sisi pengembangan sumber daya manusia (SDM)
Ketiga adalah riset dan bisnis, KSL Stmik jakarta membentuk sebuah group yang lebih intens dalam mengeksplorasi Open Source Software (OSS) yang disebut Open Source Research Group (OSRG) yang berisikan anggota KSL Stmik jakarta yang direkrut berdasarkan standarisasi kompetensi di bidang Open Source/Linux, sehingga diharapkan menghasilkan penelitian yang berharga.
Untuk itu marilah kita dukung KSl Stmik jakarta Cayoo....... KSl stmik jakarta!!!!!!!!!

Thursday, February 8, 2007

distro

Di linux mempunyai distribution store (distro) yaitu mandriva,fedora,knoppix,ubunt, suse,trustix,slackware,redhat,debian dan masih banyak yang lainnya lagi.

komunitas linux

Komunitas Study Linux Stmik Jakarta didirikan pada tanggal 2 februari 2007 oleh 5 orang mahasiswa stmik jakarta yaitu irwansyah,rizki zulfika,shandi norris,wahyu nugroho dan panji .organisasi ini bertujuan untuk mengenalkan linux untuk semua kalangan khususnya mahasiswa stmik jakarta yang beralamat di jl.radio dalam kebayoran baru jakarta selatan.